Rabu, 19 Juli 2017

Dendam Positif Raja Minyak Saudi Arabia

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur".

Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran,tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "DENDAM POSITIF"Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya.

Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja sebagai insinyur. Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya.

Apakah sampai di situ saja. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu".

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterima kasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini. "Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak.

Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab. Tahukah Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Saat itu perusahaaan ini menghasilkan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan "DENDAM POSITIF" Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita.Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya. Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat "Dendam Positif."

Shalawat Al Badawiyah


Syaikh Ahmad bin Ali Bin Yahya Al-Badawi lahir di Kota Fes, Maroko pada tahun 596 H./1199 M adalah seorang imam sufi, wali kutub dan pendiri thariqah Al-Badawiyah. Beliau dijuluki Al-Badawi selalu menutup wajahnya seperti kebiasaan Arab Badui. Kakek beliau sebelumnya bermukim di Jazirah Arab.

Kakek beliau datang di Fes Maroko akibat semakin brutalnya aksi Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi terhadap kalangan Alawiyin
Nasab Al-Badawi dari jalur ayah sampai kepada sayyidina Husein bin Ali, bin Fathimah Az-Az-Zahra' binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Berdasarkan kesepakatan ulama nasab, dan ahli sejarah, secara lengkap nasab beliau adalah Ahmad bin Ali bin Yahya bin Isa bin Abu Bakar bin Ismail bin Umar bin Ali bin Utsman bin Husein bin Muhammad bin Musa bin Yahya bin Isa bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Ja'far Az-Zaky bin Ali Al-Hadi bin Muhammad al-Jawwad bin Ali Ridlo bin Musa al-Kadhim bin Ja'far As-Shadiq bin Muhammad al-baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Sebagian ahli Nasab dan sejarah meragukan sampainya rantai nasab beliau kepada rasulullah shallallahu alaihi was sallam. Diantara mereka adalah Imam Fakhruddin Ar-Razi yang mengatakan bahwa Hasan bin Ja'far bin Ali Al-Hadi adalah orang yang masih diperselisihkan oleh para ulama apakah ia mempunyai anak atau tidak.
Sedangkan kalangan Syiah membenarkan rangkaian nasab Al-Badawi. Mereka menisbatkannya kepada Ali bin Ja'far Az-Zaky bukan kepada Al-Hasan bin Ja'far Az-Zaki, karena Al-Hasan tidak mempunyai keturunan.

Beliau hijrah ke Mekah saat berumur 7 tahun (Tahun 603 H./1206 M), dimana perjalanan kesana memakan waktu empat tahun, tiga tahun diantaranya beliau bermukim di Mesir. Di Mekah berdasarkan sumber-sumber dari kalangan shufiyah, beliau selalu beristiqamah melakukan thawaf semenjak kecil, setelah itu beliau masuk ke sebuah gua di gunung Abil Qubais untuk melakukan Ibadah. Amalan ini beliau lakukan hingga belaiu berumur 38 tahun saat beliua melakukan safar ke Irak, bersama kakak kandungnya, Hasan.
Di Irak beliau menziarahi berbagai kota tempat bermukim atau bersemayamnya para ulama, diantaranya ke Kota Syaikh Ahmad bin Ali Ar-Rifa'i, pusat thariqah Rifa'iyah. Juga ke makam Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, kemudia ke makam Syaikh Adiy bin Musafir Al-Hikari mu'assis thariqah Al-Adawiyah.

Ketika al-Badawi berada di sebuah desa dekat Mosul, terjadi perselisihan antara dirinya dengan seorang wanita bernama Fatimah. Wanita ini cantik dan kaya. Tetapi ia senang membuat lelaki jatuh cinta kepadanya. Demikian pula ia lakukan hal itu kepada Al-Badawi, tetapi ia tidak mampu, hingga ia merayu al-Badawi untuk menganinya. Diakhir cerita si wanita bertaubat di tangan al-Badawi.

Sekembali dari Irak pada tahun 635 H, Al-badawi mempunyai kebiasaan yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Beliau semakin banyak melakukan shalat dan puasa, banyak berdiam diri dan sering menengadahkan wajah ke langit. Fatimah saudara perempuan beliau mengadukan kepada kakaknya Hasan:
"Wahai saudaraku! Sesungguhnya saudara kita Ahmad selalu qiyamullail sepanjang malam. Selalu mamandang langit dan siang hari ia berpuasa, hingga bulatan hitam matanya menjadi mereka bagaikan bara. Dia pernah selama 40 hari tidak makan dan tidak minum".
Hijrah ke Mesir
Pada tahun yang sama setelah pulang dari Irak, beliau memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Mesir dengan tujuan kota Thantha. Perjalanan ini bukan hanya sebatas ziarah, tetapi sebuah hijrah berdasarkan mimpi beliau. Begitu Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani menuturkan.

Sebenarnya terdapat banyak pendapat ulama tentang alasan Al-Badawi hijrah ke Mesir, dan menetap di Thantha. Dikatakan bahwa beliau mempunyai pemikiran bahwa secara geografis Thantha berada di tengah diantara Kairo dan Iskandariyah, yakni berada tepat di tengah Delta sungai Nil. Dengan letak yang seperti ini, diharapkan penyebaran thariqah yang beliau bangun dapat cepat menyebar, ketika beliau menetap di sana.
Di Thanta beliau menetap di rumah seorang saudagar bernama Ibnu Syuhaith atau Ruknuddin. Beliau menetap di loteng rumah yang berdekatan dengan masjid Al-Bahiy ini hingga selama 12 tahun dan seluruhnya dihabiskan dengan tidak makan dan minum setiap 40 hari.

Dalam kitab-kitab tashawuf, disebutkan karama-karamah yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad Al-Badawi. Diantaranya yang paling masyhur adalah beliau mampu membebaskan para tawanan Mesir dari tangan tentara Eropa saat terjadi perang Salib. Atas kejadian ini dalam catatan sejarah Mesir terkenal sebuah ucapan, yaitu "Allah, Allah, Ya Badawi, Jabil Yusra", yang berarti Al-Badawi telah datang membawa tawanan.

Saat ini di Thantha, setiap tahun ada dua peringatan untuk mengenang beliau, yaitu di bulan April dan bulan Oktober. Peringatan di bulan Oktober ini adalah peringatan kelahiran beliau, yang merupakan peringatan terbesar di Mesir secara umum. Pada saat iru sekitar dua juta peziarah memenuhi masjid beliau yang berada di tengah di kota Thantha.

Shalawat Al-Badawiyah

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻭَﻣَﻮْﻻَﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺷَﺠَﺮَﺓِ ﺍﻷَﺻْﻞِ ﺍﻟﻨُّﻮﺭَﺍﻧِﻴَّﺔِ . ﻭَﻟَﻤْﻌَﺔِ ﺍﻟْﻘَﺒْﻀَﺔِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ . ﻭَﺃَﻓْﻀَﻞِ ﺍﻟْﺨَﻠِﻴْﻘَﺔِ ﺍْﻹِﻧْﺴَﺎﻧِﻴَّﺔِ . ﻭَﺃَﺷْﺮَﻑِ ﺍﻟﺼُّﻮْﺭَﺓِ ﺍﻟْﺠِﺴْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ . ﻭَﻣَﻌْﺪِﻥِ ﺍْﻷَﺳْﺮَﺍﺭِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ . ﻭَﺧَﺰَﺍﺋِﻦِ ﺍﻟْﻌُﻠُﻮْﻡِ ﺍﻟْﺈِﺻْﻄِﻔَﺎﺋِﻴَّﺔِ . ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻘَﺒْﻀَﺔِ ﺍﻷَﺻْﻠِﻴَّﺔِ . ﻭَﺍﻟْﺒَﻬْﺠَﺔِ ﺍﻟﺴَّﻨِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟﺮُّﺗْﺒَﺔِ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴَّﺔِ . ﻣَﻦِ ﺍﻧْﺪَﺭَﺟِﺖِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴُّﻮْﻥَ ﺗَﺤْﺖَ ﻟِﻮَﺍﺋِﻪِ ﻓَﻬُﻢْ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﺇِﻟَﻴْﻪِ . ﻭَﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠِﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ . ﻋَﺪَﺩَ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖَ ﻭَﺭَﺯَﻗْﺖَ ﻭَﺃَﻣَﺖَّ ﻭَﺃَﺣْﻴَﻴْﺖَ ﺇِﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡِ ﺗَﺒْﻌَﺚُ ﻣَﻦْ ﺃَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤﺎً ﻛَﺜِﻴﺮﺍً ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ .

Shalawat ini disusun oleh Syaikh Ahmad al-Badawi ini, terkenal dengan shalawat al-Badawiyah al-Kubra. Diriwayatkan oleh Hasan ibn Muhammad Qahhi di dalam kitab Talkhiis al-Ma`aarif fii targhiib Muhammad `Aarif bahwa seorang wali yang bernama Muhammad Talmaysani telah membaca Dalail al-Khairat 100.000 kali. Setelah selesai Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendatanginya di dalam mimpi dan berkata kepadanya, “Jika engkau membaca bacaan Ahmad al-Badawi, seolah-olah engkau telah membaca Dalail al-Khayrat 800.000 kali.”
Sebagian ulama berkata : "Barang siapa membaca Sholawat Badawi Kubro ini sebanyak seratus kali disertai suci dari hadas, ia akan diberi rizki yang mudah oleh Allah dalam segala urusan perkaranya"

Menurut Al Arif Billah Habib Ali bin Abdurahman Al Habsy dalam kitabnya : "Keutamaan Sholawat", bahwa sebagian ulama mengatakan: "Barang siapa yang membaca Sholawat Badawy Kubro sebanyak 3x maka pahalanya seperti orang membaca Dalail al-Khoirot hingga khatam"

Dan tata cara yang lainnya adalah: membacanya 5 kali seusai shalat fardlu dan 7 kali setiap mau tidur. Fadilahnya, ia akan terhindar ari sihir dan segala kejahatan lahir batin, dimudahkannya rizki, dan mendapat cahaya batin serta terbuka beberapa rahasia ghoib.
Shalawat lain yang dinisbatkan kepada beliau adalah shalawat al-Anwar:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻧُﻮﺭِ ﺍﻷَﻧْﻮَﺍﺭِ . ﻭَﺳِﺮِّ ﺍﻷَﺳِﺮَﺍﺭِ . ﻭَﺗِﺮْﻳَﺎﻕِ ﺍﻷَﻏْﻴَﺎﺭِ . ﻭَﻣِﻔْﺘَﺎﺡِ ﺑَﺎﺏِ ﺍﻟْﻨَﺴَﺎﺭِ . ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﺎﺭِ . ﻭَﺁﻟِﻪِ ﺍﻷَﻃْﻬَﺎﺭِ . ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺍﻷَﺧْﻴَﺎﺭِ . ﻋَﺪَﺩ ﻧِﻌَﻢِ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃِﻓْﻀَﺎﻟِﻪِ .

Shalawat ini mujarab untuk mendapatkan hajat dan keinginan, tesingkapnya kesusahan, terhindar dari kesulitan dan juga dihasilkannya cahaya dan rahasia-rahasia ghaib. Menurut guru kami KH. A. Sadid Jauhari, shalawat ini juga memberikan manfaat berupa diberikannya putra-putri yang sholeh dan sholehah, berguna bagi umat. Menurut beliau diantara sebab pendidi PP. Al-Anwar menamai pondoknya dengan Al-Anwar, karena tafa'ulan terhadap shalawat ini, dan karena pendahalu pendiri istiqamah dalam membaca shalawat al-Anwar ini.
Sayyidi Syaikh Ahmad Al-Badawi wafat di Thanta pada hari selasa 12 Rabiul Awal 675 H / 24 Agustus 1276 M, saat berusia 79 tahun.
Dari tangannya muncul banyak wali-wali abdal dan kutub. Allahumansyur nafahatirridlwani alaih, wa amiddana bil asrarillati auda'taha ladaih. Amin

Sabtu, 15 Juli 2017

Cek Arah Kiblat Pada Waktu Yang Tepat, Ahad 16 Juli

Jakarta, Ahad (16/07) merupakan waktu yang istimewa karena Matahari akan tepat melintas tepat di atas Ka'bah.


Peristiwa alam yang dikenal dengan istilah A’dham atau Rashdul Qiblah itu, berdasarkan data astronomi akan terjadi pada pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA.


" Pada waktu tersebut, bayang-bayang benda yang berdiri tegak lurus, di mana saja, akan mengarah lurus ke Ka'bah," terang Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Muhammad Thambrin, Sabtu (16/07/2017).


Menurutnya, peristiwa semacam ini dikenal juga dengan nama Istiwa A'dham atau Rashdul Qiblah, yaitu ketentuan waktu dimana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat.


Momentum ini, lanjut M Thambrin, dapat digunakan bagi umat Islam untuk memverifikasi kembali arah kiblatnya.


Caranya pun mudah yaitu dengan menyesuaikan arah kiblat dengan arah bayang-bayang benda pada saat Rashdul Qiblah.


Arah kiblat ialah salah satu prasyarat dalam menjalankan ibadah salat. Sebab syarat sah dalam menunaikan kewajiban bagi umat Islam ialah berdiri menghadap kiblat, katanya.


Kasubdit Hisab Rukyat Dit Urais Nur Khazin  mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhaikan dalam proses untuk verifikasi arah kiblat, yaitu:


1. Pastikan benda yang menjadi patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus atau pergunakan Lot/Bandul

2. Permukaan dasar harus betul-betul datar dan rata

3. Jam pengukuran harus disesuaikan dengan BMKG, RRI atau Telkom. 

Demikian, semoga bermanfaat.
( Sumber : Radio Republik Indonesia, RRI.co.id )

Jumat, 14 Juli 2017

Kisah Shaikh Syaiban, Imam Ahmad dan Imam Syafi'i

Saya yakin ada orang-orang seperti Syaikh Syaiban Sang penggembala (arRaa-i) masih ada, bahkan mungkin tidak jauh dari sekitar kita.


Iya, Syaikh Syaiban adalah penggambaran dari orang yang berilmu tinggi, namun sangat tidak suka menonjolkan dirinya dengan "menyamar" sebagai penggembala kambing.


Berikut sedikit kisah-kisahnya:


Suatu ketika, Imam Sufyan atSauri (Salah satu mujtahid mutlaq/mustaqil, mungkin lebih mudahnya kalo sekarang di namakan profesor fiqh, eh malah lebih tinggi ding hehe) berangkat haji bersama Syaikh Syaiban.


Ditengah perjalanan, keduanya berpapasan dengan hewan buas.


"Awas ada binatang buas!!" pekik Syaikh Sufyan.


"Jangan takut .. " kata Syaikh Syaiban. Bukannya melarikan diri, malah syaikh Syaiban menjewer kuping binatang buas itu.
Dan ajaibnya binatang itu seakan keenakan dengan mengibas-ngibaskan ekornya.


Syaikh Sufyan melongo, "Luar biasa,,, bukankah dengan ini kamu bisa terkenal !?"


"Hmmmm,,,, andai saja aku tidak takut terkenal, niscaya bekalku akan kuletakkan diatas hewan itu sampai ke Mekkah!!" jawabnya kalem.


Beliau Syaikh Syaiban memang luar biasa. Imam AlHafidz Abu Naim mendokumentasikan penggalan kisahnya dalam kitab Hilyatul awliya', "Ketika Syaikh Syaiban Sang Penggembala dalam keadaan junub, diarea sekitarnya tidak ada air. Beliau langsung berdoa kepada Allah. Dan seketika itu datanglah awan hitam berarak, lalu menurunkan hujan. Setelah mandi besarnya selesai, awan hitam itu juga segera pergi".


Dan ketika beliau berangkat sholat Jum'ah. Sebelum meninggalkan kambing-kambingnya, Beliau membuat garis melingkar mengitari kambing itu, baru berangkat. Seperti tahu kehendak sang majikan, kambing itu sama sekali tidak beranjak dari tempat itu sampai Syaikh Syaiban kembali!!", Subhanallah ..


Cerita lainnya dikisahkan dari Imam Ibnul Jauzi abul Faraj :


Pernah dalam sebuah kesempatan, Imam Syafi'i yg berjalan bersama Imam Ahmad bertemu dengan Syaikh Syaiban.


"Aku ingin bertanya pada sang penggembala ini, dan ingin tahu jawabannya" Kata Imam Ahmad.


"Sudaahhh biarkan dia,,," sergah Imam Syafi'i.


"Tidak, hal ini harus kutanyakan padanya .. ".


Lalu Imam Ahmad menghampiri Syaikh Syaiban dan bertanya:


"Yaa Syaiban, apa pendapatmu tentang orang yg sholat empat rokaat, tapi ia lupa tidak sujud empat kali. Apa yg musti dilakukannya?".


"Hmmm jawabannya menurut aliranku atau menurut aliranmu?".


"Lhoo memang ada dua aliran ya !?".


"Iya,,,Kalau menurut madzhab/aliran/doktrin kalian, maka orang itu wajib menambah dua rokaat lagi dan diakhiri dengan sujud sahwi. Tapi, kalau menurut aliranku : Orang itu termasuk lelaki yg membagi hatinya waktu menghadap Allah, hingga hatinya pantas disiksa, agar tidak mengulangi perbuatannya".


"Hmmm gitu ya," tanggap Imam Ahmad,
" Satu lagi pertanyaan : Apa pendapatmu, bagi orang yg punya kambing empat puluh dan sudah memasuki tahun wajib zakat, apa yg musti dilakukannya??".


"Kalau menurut aliranmu, ia wajib mengeluarkan zakat satu kambing. Tapi, menurut aliranku : Seorang hamba tidak punya kepemilikan sama sekali di hadapan Tuhannya".


Setelah jawaban ini, Syaikh Syaiban mendadak pingsan, entah teringat Allah, atau lainnya.
Hingga kedua Imam besar itu meninggalkannya.


( FB Robert Azmi )

Kamis, 06 Juli 2017

PCI NU Yaman adakan halal bi Halal bersama HRS

NU Yaman dan Organisasi Besar di Yaman adakan Halal bi Halal dan Seminar bersama Habib Rizieq

Sudah menjadi agenda rutinan pelajar Indonesia yang berada di Hadhramaut mengadakan halal bihalal tiap tahunnya. Namun acara halal bihalal tahun ini sedikit berbeda dengan acara halal bihalal ditahun sebelumnya. Pelajar Indonesia di Hadhramaut kedatangan seorang tokoh yang sangat istimewa, beliau Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab, seorang ulama yang terkenal sangat getol melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar dan juga seorang ulama yang berkaliber dan berwawasan luas. Tentulah pelajar Indonesia di Hadhramaut tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menimba ilmu dari beliau ini. Maka dengan itu, Asosiasi Mahasiswa Indonesia Al-Ahgaff bersama dengan Ppi Yaman, Ppi Hadhramaut, FMI Yaman, PCI-NU Yaman, Flp Hadhramaut dan segenap organisasi lainnya berinisiatif menggelar seminar ilmiah yang dinarasumberi oleh beliau.

Acara halal bihalal sekaligus Seminar ilmiah kebangsaan tersebut terlaksana pada hari Rabu 5 juli 2017 bertempat di Convention Hall al-Habib Abdul Qodir As-Segaf, Rubat Imam Al-Muhajir, Husaisah, Hadhramaut. Acara yang berlangsung mulai pukul 8.30 Pagi s/d 11.30KSA berlangsung begitu menarik.

MC pada acara tersebut adalah Syd Hafiz Al-Qodri (Mahasiswa semester 6 Univ. al-Ahgaff) dan dimoderatori oleh Gus Imam Rahmatullah (Mahasiswa semester 10 Univ.Ahgaff yang sekaligus Ketua Umum PCI-NU Yaman periode 2015-2016). Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi dengan seminar kebangsaan dan sesi kedua diisi dengan dialog ilmiah.

Seminar Kebangsaan dan Diskusi Ilmiah tersebut berlangsung begitu menarik dengan dihadiri oleh pelajar Indonesia yang ada di Hadhramaut dari berbagai latar belakang instansi pendidikan, diantaranya: Universitas Al-Ahgaff, Rubat Tarim, Darul Musthafa, Rubat Alfath wal Imdad, Rubat Seiyun, Rubat muhajir, dsbg. Para audiens terlihat sangat antusias mengikuti jalannya seminar dan diskusi.

Beberapa materi yang disampaikan oleh Habib Muhammad Rizieq Syihab diantaranya:
-Sejarah terbentuknya pancasila
-Peran ulama dalam pembentukan NKRI
-Pilar-pilar kebangsaan Indonesia
-Peta dakwah di Indonesia

Beliau juga menaruh harapan besar kepada seluruh pelajar Indonesia di Hadhramaut sebagai penerus estafet dakwah ahlussunnah wal jama'ah kedepannya agar lebih gigih dalam menuntut ilmu dan belajar, mengingat tantangan dakwah kedepan yang sangat kompleks dan beragam.

Acara diakhiri dengan mushafahah atau salam-salaman antar pelajar Indonesia dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah dan makan siang bersama.

( Gamal Abd Nasir- PCI NU Yaman )

Kamis, 29 Juni 2017

Jaga Kesucian Khutbah dari Kebencian

Khutbah

Khutbah Idul Fitri 1438 H/2017 M di alun-alun Wonosari Gunung Kidul Yogyakarta yang lalu kembali mendapat perhatian dari khalayak. Sebagaimana diberitakan oleh sejumlah media, jamaah yang hadir untuk menunaikan rangkaian ibadah shalat Idul Firi di tempat itu secara berangsur-angsur meninggalkan sang khatib yang sedang berkhutbah. Padahal, rangkaian khutbah setelah shalat merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dari ibadah shalat Idul Fitri itu sendiri. Mengapa para jamaah meninggalkan sang khatib? Ternyata, dalam khutbah tersebut sang khatib menyampaikan ceramah yang provokatif, menguak isu kriminalisasi ulama, penodaan agama, dan kasus yang menjerat Ahok. 

Kasus pemanfaatan khutbah atau ceramah keagamaan di ruang ibadah seperti yang terjadi di Gunung Kidul bisa jadi itu merupakan potret atas fenomena betapa ruang  ceramah keagamaan telah dimanfaatkan secara terbuka tidak proporsional oleh sebagian para juru dakwah. Memanfaatkan media keagamaan untuk tujuan tertentu yang sangat tidak proporsional, termasuk untuk kepentingan politik-praktis serta mengembangkan ide-ide yang kontraproduktif dengan ideologi negara dan keindonesiaan, kemudian dinyatakan sebagai bagian dari gerakan dakwah, tampaknya semakin menggejala secara luas di negeri ini. Bahkan, fenomena itu bisa jadi akan terus bergulir, utamanya menjelang dan hingga pelaksanaan Pilkada atau Pilpres 2019.

Sebab, menjelang Pilkada dan Pilpres yang penuh dengan kepentingan politik, forum-forum keagamaan menjadi sasaran empuk dalam membangun dan merekrut partisan politik, sehingga politisasi forum keagamaan sangat mungkin masif terjadi. Jika itu benar-benar terjadi, maka sebagai warga negara dan umat beragama tentu kita tidak bisa membiarkan itu terus terjadi. 

Dalam konteks fenomena di atas, penulis mengapresiasi kepada Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, yang telah melahirkan “Seruan Ceramah di Rumah Ibadah” pada tanggal 28 April 2017. Substansi dari seruan ceramah itu mengingatkan semua pihak, termasuk juru dakwah, pengurus/pengelola rumah ibadah dan masyarakat luas, untuk menggunakan ceramah agama dan ruang ibadah sebagaimana mestinya, yakni mendakwahkan tujuan utama diturunkannya agama untuk melindungi martabat kemanusiaan serta menjaga kelangsungan hidup dan perdamaian umat manusia, tidak bertolak belakang dengan ideologi dan nilai-nilai kebangsaan, dan tidak mengandung provokasi atau adu domba. Jika seruan ini dipedomani oleh semua pihak, hemat penulis, fenomena khutbah Idul Fitri Gunung Kidul dan semacamnya semestinya tidak perlu terjadi.

Di sebagian kalangan masyarakat, terdapat penilaian bahwa Kementerian Agama itu bagaikan kementerian super-power. Ia memiliki kekuasaan yang tak terbatas, termasuk dalam melakukan pembinaan dan penindakan atas fenomena penceramah agama yang tidak proporsional itu. Tentu, anggapan ini tidaklah pada tempatnya. Pasalnya, Kementerian Agama bertanggung jawab pada pembinaan di bidang agama. Ia tidak dapat melakukan peran-peran di luar batas kewenangannya, seperti penindakan hukum, meski di bidang agama. Persoalan hukum dan tindakan tegas yang berimplikasi secara hukum tentu itu menjadi domain dari lembaga penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan lembaga peradilan. Dalam posisi ini, penulis dapat memahami mengapa kemudian, misalnya, yang menangani kasus penodaan agama adalah kepolisian, bukan Kementerian Agama. Sebab, kasus penodaan agama merupakan delik hukum. Kementerian Agama membatasi diri sesuai dengan tugas dan fungsinya, yakni bukan sebagai lembaga penegak hukum.  

Untuk menangani juru dakwah yang tidak proporsional, ada sejumlah hal yang perlu dilakukan. Pertama, diperlukan dorongan dari lembaga dan ormas keagamaan yang moderat, seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah, untuk menerbitkan dan memfatwakan secara tegas atas sikap yang harus dilakukan oleh  jamaah atau audien jika didapati khatib atau juru dakwah yang tidak proporsional. Misalnya, kepastian hukum untuk melakukan interupsi ketika khutbah Jumat yang khatibnya menyampaikan kebencian, caci maki, dan mengembangkan ide-ide yang bertolak belakang dengan ideologi negara. Fatwa keagamaan ini penting untuk memastikan bahwa ceramah atau khutbah keagamaan itu benar-benar sesuai dengan fungsinya. Di samping itu, fatwa ini untuk membekali para jamaah agar dapat berperan sebagai pengontrol pelaksanaan ceramah atau khutbah keagamaan, sehingga khatib tidak merasa “mentang-mentang” dan melampaui batas kepatutan.

Kedua, pedoman manajemen bagi pengelola lembaga keagamaan, seperti pedoman manajemen masjid dari Kementerian Agama untuk para pengurus masjid. Pedoman ini untuk memberikan guide dalam pelaksanaan ceramah atau khutbah, kriteria yang harus dipenuhi oleh sang khatib yang akan dihadirkan oleh pengurus masjid, serta norma-norma yang harus dijunjung  tinggi dalam pelaksanaan ceramah atau khutbah itu. Dengan disediakannya pedoman ini, terlebih bersifat imperatif, para pengurus atau pengelola lembaga keagamaan memiliki dasar hukum dan pembenaran untuk melakukan koreksi atau langkah yang dilakukan, jika ditemui khatib atau juru dakwah itu tidak proporsional.

Ketiga, menyediakan bahan bacaan atau naskah khutbah yang telah dipastikan isinya benar dan sesuai dengan norma keagamaan dan kebangsaan. Ketersediaan naskah ini di samping untuk melengkapi koleksi kepustakaan, juga dapat digunakan untuk antisipasi jika terjadi keterlambatan atau tidak adanya khatib yang profesional. Bahkan, bisa saja di event-event tertentu, Kementerian Agama mewajibkan kepada seluruh lembaga keagamaan untuk menggunakan naskah khutbah tertentu.

Keempat, Kementerian Agama perlu melakukan sinergi program dengan ormas keagamaan moderat, seperti NU dan Muhammadiyah, dalam penguatan manajemen masjid. Masjid-masjid di masyarakat pada kenyataannya tidak sedikit yang menginduk pada ormas keagamaan itu, setidaknya dalam melakukan amaliah ibadah yang dilakukan di lingkungan masjid. Di PBNU, misalnya, ada LTM-NU (Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama) yang sangat getol melakukan program Muharrik Masjid. Program ini sangat tepat disinergikan dengan Kementerian Agama, mengingat di lapangan terjadi pergeseran fungsi masjid terutama yang dimanfaatkan untuk mengembangkan ajaran-ajaran keagamaan yang radikal. 

Kelima, mendorong kepada pondok pesantren dan PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam) terutama pada Fakultas Dakwah untuk menghasilkan ketersediaan dan kesadaran juru dakwah yang “genah”. Juru dakwah yang memiliki kesadaran keagamaan dan kebangsaan perlu direproduksi, tentu dengan tanpa menghilangkan kualitasnya yang baik.

Di samping melakukan beberapa hal di atas, jika ternyata didapati juru dakwah yang benar-benar menyampaikan ujaran kebencian dan perpecahan antarwarga negara serta mengajarkan ideologi yang betentangan dengan Pancasila, seperti mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lainnya, disertai dengan alat bukti yang cukup, perlu ada dukungan dari semua pihak untuk memproses dan mengajukan juru dakwah tersebut ke ranah hukum, sesuai dengan prosedur dan norma hukum yang berlaku. Hal ini penting untuk dilakukan untuk menjamin kesucian forum keagamaan, tidak dikotori dengan umpatan dan caci makian yang justeru menghilangkan kesucian mimbar dan hakikat agama itu sendiri. 


Penulis adalah alumnus Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon

Rabu, 14 Juni 2017

Orang - Orang Ini Wafat saat Ibadah

Berita meninggalnya seorang jamaah masjid yang sedang sujud yang disampaikan Ustaz Yusuf Mansur menyita perhatian netizen.

Menurut Yusuf Mansur, jamaah yang meninggal itu sedang melaksanakan salat Isya berjamaah di Masjid Ittihaad Tebet, Selasa (13/6/2017) malam.

Merujuk ajaran Islam, meninggal saat sedang salat diyakini sebagian kematian yang baik.
Selain seorang jamaah di masjid Ittihad itu, berikut ini beberapa orang yang meninggal saat salat atau membaca Alquran.

Sebagian dari kisah mereka viral di media sosial dan mengundang doa dari netizen.

1. Pria asal Lawang, Malang meninggal saat sujud



Dikutip dari TribunJateng, meninggalnya seorang pria asal Lawang, Malang, Jawa Timur, membuat netizen berdecak kagum dan mendoakannya.

Pria yang biasa memandikan jenazah warga lain itu meninggal dunia dalam keadaan sujud.
Kabar kematian Miftah Arifin, nama pria tersebut, beredar viral di media sosial.

Disebutkan netizen, Miftah melaksanakan salat ba'diah Isya di masjid setempat pada Selasa (3/1/2017) malam.

Namun pada sujud terakhir salat sunah tersebut, ia tak kunjung bangun hingga masjid hendak ditutup petugas.
Setelah diselidiki, ternyata warga Kauman, Lawang, itu sudah meninggal dunia.


2. Seorang Imam Masjid Meninggal Dunia saat Sujud Pertama Salat Jumat


Dikutip dari TribunJogja, pria yang diketahui sedang menjadi imam salat Jumat di salah satu masjid di Samarinda, Kalimantan Timur itu, meninggal dunia ketika sedang sujud.
Imus, imam salat Jumat di salah satu masjid di Samarinda meninggal dunia ketika sedang sujud rakaat pertama.
Peristiwa menghebohkan itu diposting oleh netizen Bang Ipan Kah.

Menurut Ipan, imam salat itu meninggal hari ini, Jumat (6/1/2017).

Baru pada sujud pertama, pria yang terlihat mengenakan baju coklat itu sudah tidak dapat melanjutkan salat.
"Ya Allah baru solat jum'at tadi siang di masjid Baitut Taharah imam ini meninggal pada sujud pertama. Ya Allah moga imam ini tenang di sana. #masjidBaitutTharah," tulisnya siang ini.

Sejumlah netizen langsung menyahut postingan tersebut untuk mempertanyakan kebenarannya.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ipan membenarkan kejadian itu.
 

3. Meninggal saat membaca Alquran



Dilansir dari Kompas.com, Jakfar Abdurrahman, seorang qori atau pembaca ayat suci Al Quran, meninggal dunia saat tengah melantunan ayat suci Al Quran, di acara Haul Keluarga Besar Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, di Surabaya, Jawa Timur, Senin (24/4/2017).

Jakfar Abdurrahman meninggal saat membaca Alquran
Informasi yang dihimpun dari lokasi acara, tubuh Jakfar tiba-tiba lemas dan jatuh usai membacakan dua ayat suci di atas panggung.

Mikrofon di tangannya lepas dan tubuhnya terjatuh ke samping.
Peristiwa itu membuat sejumlah tamu undangan berteriak histeris.

"Panitia langsung membawanya ke posko kesehatan dan Rumah Sakit Islam Surabaya II yang lokasinya tidak jauh dari lokasi acara," kata Rofiq Kurdi, seorang panitia acara tersebut.
Sekitar satu jam kemudian, pembawa acara mengumumkan bahwa Jakfar dipastikan meninggal dunia oleh petugas medis rumah sakit Islam Surabaya II.

4. Meninggal dalam sujud di depan gerbang Masjid


Dikutp dari Kompas.com, Kamaludin (40), warga Kedung Halang, Kota Bogor, ditemukan meninggal dalam posisi sujud di depan gerbang Masjid Raya Bogor, Kecamatan Bogor Timur, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/4/2017).

Polisi yang datang ke lokasi langsung membawa jasad pria itu ke Rumah Sakit Bhayangkara Polresta Bogor Kota.
Kepala Polsek Bogor Timur, Komisaris Polisi Marsudi Widodo mengatakan, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Hanya saja ditemukan bercak muntahan di sekitar tubuh korban.
Polisi menduga, korban meninggal karena serangan jantung.

Hal itu juga diperkuat oleh pernyataan pihak keluarga yang menyebutkan bahwa korban mempunyai riwayat penyakit jantung.

"Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Tapi kami temukan ada bekas muntahan di jalanan di dekat tubuhnya. Diduga kena serangan jantung," ucap Marsudi saat dikonfirmasi.
Marsudi menambahkan, Kamaludin pertama kali ditemukan oleh seorang petugas keamanan bernama Lukman (30).

Saat itu, kata Marsudi, Lukman sedang berkeliling di sekitar masjid untuk memantau keamanan.
Tiba-tiba, dirinya melihat ada sosok pria seperti bersujud di depan gerbang masjid.
Setelah dicek, ternyata pria itu dalam keadaan tak bernyawa.
"Dari keterangan saksi, sebelumnya korban terlihat berjalan dari arah Terminal Baranangsiang dan duduk di depan gerbang masjid sampai akhirnya ditemukan meninggal," pungkasnya.