Burung - Burung yang Hijrah


Oleh: Ust. Miftah el-Banjary
Sekelompok burung terbang dengan tujuan "hijrah" untuk menemukan pulau indah penuh kedamaian dan keberlimpahan.

Ditengah perjalanan ada seekor burung yang berseru pada kawan-kawannya,
"Hei kawan! Kita berhenti dulu sebentar! Lihatlah di bawah sana ada sekawanan burung-burung menikmati air yang jernih! Mari kita bersenang-senang dulu!"
Lantaran tak ada yang mau diajak, lantas burung itu turun menukik memisahkan diri, lalu bergabung dengan kawanan burung-burung yang sedang menikmati air yang jernih.

Ternyata yang ia temui bukanlah burung-burung, melainkan sekawanan unggas yang tidak bisa terbang seperti dirinya. Sayang, dia sudah tertinggal dari kawan-kawannya yang tetap meneruskan perjalanan.

Burung-burung yang lain tetap terbang. Tiba-tiba seekor burung berteriak pada kawannya, "Hei berhenti sebentar! KIta lihat dulu warna-warni pelangi yang indah itu!"

Lantaran sebagian tetap terbang dan tak mau berhenti, seekor burung itu memutuskan berputar-putar mengelilingi pelangi yang berwarna-warni hingga dia ditinggalkan oleh kawanannya. Tak lama kemudian, warna itu pudar dan sirna. Dia pun kebingungan menentukan arah.

Sementara sisa burung yang terbang makin sedikit. Seekor burung berteriak lagi, "Hei kawan, di sana ada awan hitam. Lebih baik kita menghindar saja, aku khawatir itu badai yang akan menghantam kita!" pekiknya.

Si burung itu membalikkan sayapnya dan berputar-putar meliuk-liuk, namun dia kalah cepat hingga beberapa kawanan burung lainnya yang tetap nekat menembus awan pekat menghilang melanjutkan perjalanan. Si burung itu kehilangan arah tujuan.

Apa hikmah dibalik kisah burung-burung ini?
Burung pertama menggambarkan seorang pemerhati yang suka membandingkan dirinya dengan orang lain. Dia selalu ingin melihat kelebihan orang lain sekaligus mengetahui kekurangan dalam diri mereka.

Tipe orang ini termasuk orang yang selalu disibukkan oleh hal-hal sepele, sehingga waktu yang seharusnya ia gunakan untuk melakukan perubahan, justru banyak dihabiskan untuk mengamati orang lain di sekitarnya. Ini termasuk tipe orang yang tertipu.

Burung kedua menggambarkan sikap orang yang belum ada niat untuk berhijrah dan berubah. Dia hanya ikut-ikutan dan masih belum memiliki tujuan dan prinsip yang jelas tentang apa yang ingin dicapainya.

Hingga bila ada sedikit saja godaan kesenangan dan hiburan, dia akan mudah sekali memutuskan untuk menikmatinya. Tipe orang semacam ini akan selalu tertinggal kehidupannya.
Burung ketiga menggambarkan sikap orang yang tidak siap dan selalu takut menghadapi tantangan perubahan. Dia tidak berani mengambil resiko atas segala perubahan yang terbaik bagi kehidupannya. Orang semacam ini selalu mengalah mundur sebelum bertarung. Ini tipe orang yang selalu gagal.

Burung yang keempat adalah burung-burung yang memahami tujuan dan cita-cita pencapaian mereka. Mereka memami mereka diciptakan dengan segala kemampuan dan potensi, seperti sayap untuk bisa terbang mengarungi angkasa. Dan akhirnya mereka berhasil mencapai tujuannya.
Terakhir inilah mereka yang hidup dengan tujuan dan prinsip yang jelas. Mereka sibuk dengan tujuan pencapaian demi pencapaian mereka.

Hal inilah yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya "Kapankah seorang mukmin berhenti berjuang?" Imam Ahmad bin Hanbal menjawab, "Ketika sebelah kakiku telah menginjakkan ke pintu surga."

Semoga tetap Istiqomah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Burung - Burung yang Hijrah"

Posting Komentar